Saturday, November 22, 2014

TAFSIR AYAT-AYAT TENTANG ASMA AL-HUSNA

Sumber Gambar Disini

Compiled by: ANDIKA MAULANA

I.                   PENDAHULUAN
Tak kenal maka tak sayang, demikianlah bunyi pepatah. Banyak orang mengaku mengenal Allah, tapi mereka tidak cinta kepada Allah. Buktinya, mereka banyak melanggar perintah dan larangan Allah. Sebabnya, ternyata mereka tidak mengenal Allah dengan sebenarnya.
Ilmu tentang mengenal Allah merupakan ilmu yang paling mulia. Ilmu tentang Allah adalah pokok dan sumber segala ilmu. Maka barangsiapa mengenal Allah, dia akan mengenal yang selain-Nya dan barangsiapa yang jahil tentang Rab-Nya, niscaya dia akan lebih jahil terhadap yang selainnya.
Kita beriman bahwa Allah memiliki nama-nama yang Dia telah menamakan diri-Nya dan yang telah dinamakan oleh Rasul-Nya. Dan beriman bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang tinggi yang telah Dia sifati diri-Nya dan yang telah disifati oleh Rasul-Nya.
Pada makalah ini, akan dibahas Asma al-Husna (nama-nama Allah yang terbaik), yang didasarkan pada ayat-ayat al-Qur’an yang secara tersurat membahas tentang Asma al-Husna serta penafsiran para Ulama Tafsir  tentang ayat-ayat tersebut.

II.                POKOK PEMBAHASAN
1.      Bagaimana Tafsir Surat Al-A’raf Ayat 180?
2.      Bagaimana Tafsir Surat Yusuf Ayat 39-40?
3.      Bagaimana Tafsir Surat Al-Isra’ Ayat 110-111?
4.      Bagaimana Tafsir Surat Al-Hasyr Ayat 22-24?

III.             PEMBAHASAN
A.    Tafsir Surat Al-A’raf Ayat 180
“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”

v  PENGERTIAN SECARA UMUM
Kutipan ayat sebelumnya, yaitu Surat Al-A’raf ayat 179:

“Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.”
      Setelah Allah SWT menerangkan pada surat Al-A’raf ayat 179, bahwa makhluk-makhluk Allah yang menjadi calon penghuni neraka adalah mereka yang lalai menggunakan akal dan panca indera untuk mengambil pelajaran dari tanda-tanda kebesaran Tuhan dan untuk memahami ilmu yang berguna dalam mensucikan jiwa mereka, yang karena kelalaian tersebut maka akibatnya mereka lupa sama sekali untuk memperbaiki diri mereka baik dengan mengingat Allah, bersyukur kepadanya maupun memuji dengan sifat-sifat yang patut dipanjatkan kepada-Nya, maka selanjutnya pada surat Al-A’raf ayat 180, Allah menerangkan pula obatnya untuk menyembuhkan kelalaian tersebut, dan ditunjukkan pula oleh-Nya jalan keluar agar mereka melakukan kebalikannya, yaitu selalu ingat kepada Allah dan berdoa kepada-Nya, baik secara rahasia maupun terang-terangan pagi maupun sore.[1]

v  PENJELASAN
      Firman Allah SWT, “Hanya milik Allah Asma al-Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma al-Husna itu.” Firman ini adalah perintah Allah agar manusia melakukan ibadah dengan ikhlas karena-Nya. Selain itu, ayat ini merupakan perintah untuk menghindari orang-orang yang musyrik dan orang-orang yang sesat.
      Muqatil dan beberapa ahli tafsir mengatakan, ayat ini diturunkan berkenaan dengan kisah salah seorang muslim di zaman Nabi SAW. Ketika itu ia shalat atau berdoa dengan membaca lafadz “ya rahman ya rahim.” Lalu orang-orang musyrik Makkah berkata kepadanya, “Bukankah Muhammad dan teman-temannya mengatakan bahwa mereka menyembah Tuhan Yang Maha Esa, lalu mengapa engkau berdoa dengan menyebut dua nama Tuhan?” Tak lama kemudian turunlah firman Allah SWT “Hanya milik Allah Asma al-Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma al-Husna itu.”[2]
      Kata al-asma’ adalah bentuk jamak dari kata al-ism yang biasa diterjemahkan dengan nama. Ia berakar dari kata as-sumuw yang berarti ketinggian atau as-simah yang berarti tanda. Memang nama merupakan tanda bagi sesuatu sekaligus harus dijunjung tinggi.[3]
      Kata al-husna adalah bentuk muannats/feminism dari kata ahsan yang berarti terbaik. Penyifatan nama-nama Allah dengan kata yang berbentuk superlative ini menunjukkan bahwa nama-nama tersebut bukan saja baik tapi juga yang terbaik dibandingkan dengan yang lainnya, yang dapat disandangnya atau baik hanya untuk hanya selain-Nya saja, tapi tidak baik untuk-Nya.[4]
      Didahulukannya kata lillah pada firman-Nya wa lillah al-asma al-husna menunjukkan bahwa nama-nama indah itu hanya milik Allah semata. Kalau Anda berkata Allah Rahim, rahmat-Nya pasti berbeda dengan rahmat si A yang juga boleh jadi Anda sandangkan padanya.[5]
      Huruf ha’ yang terdapat pada dhamir pertama (hu) dalam lafadz fad’uhu kembali pada nama Dzat-Nya, yaitu Allah, sedangkan huruf ha’ yang terdapat pada dhamir kedua (ha) dalam lafadz biha kembali pada nama-nama-Nya, yaitu nama-nama yang dapat dipergunakan untuk memanggil atau berdoa dengannya.[6]
      Firman Allah SWT, “Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma al-Husna itu,” maksudnya adalah berdoalah kepada Allah dengan menggunakan sebutan yang sesuai dengan-Nya atau dengan sifat-Nya. Misalnya apabila kita memohon untuk dikasihani maka sebutkanlah doa itu bersama dengan menggunakana lafadz, “ya rahim irhamni”. Atau apabila kita memohon agar suatu hal dapat diputuskan, maka sebutkanlah doa itu bersama dengan lafadz, “ya hakim uhkum li”. Atau apabila kita memohon runtuk diberikan rezeki, maka panjatkanlah dengan lafadz “ya razzaq urzuqni”.[7]
      Sangat popular berbagai riwayat yang menyatakan bahwa jumlah Asma al-Husna sebanyak sembilan puluh sembilan. Salah satu riwayat tersebut berbunyi: “Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama – seratus kurang satu – siapa yang ahshaha (mengetahui / menghitung / memeliharanya) maka dia masuk surga. Allah ganjil (Esa) senang pada yang ganjil” (HR. Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan lain-lain).
      Bermacam-macam penafsiran ulama tentang kata ahshaha, antara lain “memahami maknanya dan mempercayainya”, atau mampu melaksanakan kandungannya serta berakhlak dengan nama-nama itu.
      Betapapun, yang jelas ada manusia yang sekadar membaca nama-nama itu disertai mengagungkannya, ada juga yang mempercayai kandungan makna-maknanya, ada lagi yang menghafal, memahami maknanya, dan mengamalkan kandungannya. Itu semua dapat dikandung oleh kata tersebut dan mereka semua insya Allah dapat memperoleh curahan rahmat Ilahi sesuai niat dan usahanya.[8]
      Kembali kepada bilangan Asma al-Husna, para ulama berbeda pendapat tentang lafadz-lafadz Asma al-Husna dan jumlahnya, mengenai hal tersebut, dapat dibaca di kitab Tafsir al-Mishbah vol 4 hal 379-389, terjemah Tafsir al-Qurthubi (ed. M. Ikbal Kadir)  jilid 7 hal 818-830, dan terjemah Tafsir al-Maraghi (terj. Bahrun Abu Bakar, Lc., dkk) hal 215-224.
      Kembali ke penafsiran ayat di atas.
      Firman Allah SWT, “Dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” Maksud ayat ini adalah, panggillah Allah dengan Asma al-Husna itu hai orang-orang mukmin, jangan hiraukan semua orang yang menyimpang dari kebenaran menyebut nama-nama Allah, baik dengan menyelewengkan lafadz-lafadznya maupun menyelewengkan makna-maknanya dari kebenaran yang semestinya kea rah yang berbeda-beda, seperti berubah, mentakwilkan, memusyrikan, mendustakan, menambahi, mengurangi atau apa saja yang berarti tidak menyebut Allah dengan nama yang tidak patut dikatakan dalam menyebut-Nya, atau dengan nama yang bisa ditakwilkan menjadi sebutan-sebutan yang tidak patut bagi Allah.
      Kemudian Allah menerangkan kenapa orang-orang yang menyimpangkan Asma al-Husna itu tak perlu dihiraukan, biarlah mereka bermain-main dengan kesesatan, karena mereka akan menemui balasan amal mereka adakan ditimpa hukuman di dunia sebelum mendapat siksaan di akhirat kelak. Maka dari itu, hindarilah penyelewengan mereka supaya kamu jangan ditimpa seperti yang akan menimpa mereka.[9]  
     
B.     Tafsir Surat Yusuf Ayat 39-40
“Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?”
“Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) Nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang Nama-nama itu. keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."

v  PENJELASAN
Firman Allah SWT, “Hai kedua sahabat penjara,” maksudnya adalah, yang tinggal berdiam dalam penjara. Lafadz ini menggunakan kata “shahabah”, sebab keduanya sudah sekian lama tinggal di dalam penjara. Contohnya, Ashabul Jannah (penghuni surga) dan Ashabun Nar (penghuni neraka).[10]
Kata mutafarriquna (berbeda-beda) yang menyifati kata arbabun (tuhan-tuhan) dapat mencakup tiga kategori. Pertama, berbeda-beda dan bermacam-macam zatnya, masing-masing menjadi tuhan. Ini berarti tuhan banyak. Dan, bila demikian, tidak ada yang wajar dipertuhankan karena semua tidak berkuasa penuh. Padahal, Tuhan adalah yang berkuasa penuh. Kedua, berbeda-beda dalam arti mereka banyak tetapi bergantian menjadi tuhan. Ini pun menunjukkan kelemahan karena Tuhan adalah yang kekal. Dan ketiga, berbeda-beda karena pembagian tugas. Ini pun menunjukkan kelemahan karena kesepakatan dan kerelaan membagi menunjukkan adanya factor yang menguasai mereka, padahal seharusnya Tuhan berkuasa penuh.[11]
Oleh karena itu, maksud ayat “manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha perkasa?” adalah, apakah tuhan-tuhan yang sebanyak itu, yang punya kelakuan yang berbeda-beda dan terbagi-bagi dengan segala akibatnya berupa pertentangan dan perselisihan, di samping pekerjaan dan pengaturan yang bahkan akan merupakan aturan itu, lebih baik bagi kalian berdua atau lainnya dalam mengabulkan apa yang kalian pinta supaya menghilangkan bahaya dan mendatangkan keuntungan, dan dalam segala hal yang kamu memerlukan bantuan dari alam ghaib; ataukah Allah yang Maha Esa, Satu, Tunggal, dan tampak memohon itu lebih baik; yang tak bisa ditentang dan tak bisa dilawan dalam segala tindakan dan pengaturan-Nya, dan Dia pun mempunyai kekuasaan sempurna dan kemauan menyeluruh, dan Dia pula yang menundukkan segala kekuatan dan undang-undang alam nyata, yang dengan itu teraturlah segala tata alam langit dan bumi, baik cahaya, udara maupun air, atau undang-undang alam gaib yang tak bisa kita lihat, seperti para malaikat dan setan, yang oleh karena tidak diketahui hakikatnya, maka terus disembah dan dianggap tuhan?[12]
Firman Allah SWT, “kamu semua tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama,” menjelaskan kelemahan dan kekurangan patung dan berhala. “Yang kamu membuat-buatnya,” maksudnya adalah mengarangnya sendiri. Ada yang mengatakan, maksud nama-nama tersebut adalah nama yang dibuat-buat, yakni kamu hanya menyembah patung-patung yang tidak mempunyai sifat ketuhanan kecuali hanya nama saja, sebab patung-patung itu hanyalah benda mati. “Kecuali hanya nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya,” objek kedua disini dihapus, sebab sudah terkandung di dalam kalimat. Dengan demikian maknanya adalah nama-nama tuhan yang kamu buat sendiri.[13]
  Sayyid Quthub berkomentar bahwa redaksi “Allah tidak menurunkan suatu sulthan (hujjah) tentang hal itu,” yang ditemukan berkali-kali dalam al-Qur’an merupakan satu ungkapan yang mengandung hakikat yang sangat mendasar, yaitu bahwa setiap kalimat, atau syariat, atau adat istiadat, atau ide tidak diturunkan Allah, ia bernilai rendah, pengaruhnya kecil, dan segera lenyap. Fitrah manusia akan meremehkannya. Dari penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa ayat ini merupakan isyarat tentang keharusan adanya sulthan/hujjah bagi setiap kata atau nama.[14]
“Keputusan itu hanyalah milik Allah,” Dzat yang menciptakan semua. “Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus,” maksudnya adalah, yang lurus dan benar. “Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”[15]
 
C.    Tafsir Surat Al-Isra’ Ayat 110-111

“Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Al asmaa-ul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu".
“Dan Katakanlah: "Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.”

v  PENJELASAN
Firman Allah SWT, “Katakanlah: ‘Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Al-Asmaaul Husna (nama-nama yang terbaik)’.”
Sebab turunnya ayat ini adalah bahwa kaum musyrik mendengar Rasulullah SAW berdoa, “Ya Allah, ya Rahman (Maha Pengasih)”, sehingga mereka berkata, “Muhammad menyuruh kita berdoa kepada Tuhan yang Esa sedangkan dia sendiri berdoa kepada dua Tuhan.” Demikian dikatakan oleh Ibnu Abbas.[16]
Sedangkan Makhul berkata, “Rasulullah SAW menunaikan shalat tahajjud pada suatu malam. Lalu di dalam doanya beliau mengucapkan, ‘Ya Rahman (Maha Pengasih), ya Rahim (Maha Penyayang)’ sehingga terdengar oleh seseorang dari kalangan musyrik. Ketika itu beliau sedang berada di Yamamah dan orang itu bernama Ar-Rahman. Maka orang yang mendengar itu berkata, ‘Bagaimana Muhammad ini berdoa kepada kedua orang bernama Ar-Rahman di Yamamah.’ Maka turunlah ayat ini yang menjelaskan bahwa keduanya adalah untuk satu Dzat. Jika kalian seru Dia dengan ‘Allah’ maka yang demikian itu cukup, dan jika kalian seru dengan Ar-Rahman, maka itu juga cukup.”[17]
Thalhah bin Musharraf membaca: “Dengan nama apa saja kamu seru, Dia mempunyai Al-Asmaaul Husna (nama-nama yang terbaik)”. Maksudnya, Yang memastikan sifat-sifat paling utama dan makna-makna paling mulia.[18]
Firman Allah SWT, “Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” Maksud ayat ini adalah, dan janganlah kamu mengeraskan bacaanmu, sehingga orang-orang musyrik itu mendengar, lalu mereka mengecam al-Qur’an, dan jangan pula kamu membacakannya kepada kepada sahabat-sahabatmu dengan suara terlalu rendah, sehingga mereka tidak bisa mendengar al-Qur’an, lalu mereka tak bisa mengambil al-Qur’an darimu. Tetapi, carilah jalan antara keras dan rendah.[19]
Ayat ini juga memerintahkan untuk membaca al-Qur’an ketika shalat atau berdoa di luar shalat dengan tidak terlalu mengeraskan suara dan tidak juga merahasiakannya. Ini untuk menghindari gangguan terhadap orang lain sekaligus menghindari gangguan dari orang lain. Nabi SAW melaksanakan tuntunan ini dalam pelaksanaan doa dan shalat. Itu sebabnya pula sehingga pada saat orang-orang musyrik masih berkeliaran, di waktu Zhuhur dan Asar, bacaan-bacaan shalat dilakukan dengan suara yang rahasia (sangat perlahan). Sedangkan di waktu Shubuh ketika mereka masih nyenyak tidur demikian juga Maghrib dan Isya ketika mereka telah kembali ke rumah masing-masing, shalat-shlat itu dilaksanakan Nabi SAW dengan bacaan yang dapat terdengar secara jelas oleh para makmum.[20]
Firman Allah SWT, “Dan Katakanlah: ‘Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong’.” Di sini, Allah SWT, telah mensifati diri-Nya dengan tiga sifat. Pertama, bahwa Dia tidak mempunyai anak. Kedua, bahwa Allah tidak mempunyai serikat dalam kerajaan-Nya. Ketiga, bahwa Allah tidak mempunyai penolong karena kehinaannya.
Kemudian di penghujung ayat, Allah berfirman, “Dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” Maksudnya, Agungkanlah Tuhanmu, hai Rasul, dengan ucapan dan perbuatan yang telah kami perintahkan kepadamu, untuk mengagungkan Allah dengannya. Dan taatilah Dia dalam segala yang Dia perintahkan dan larang kepadamu.[21]       

D.    Tafsir Surat Al-Hasyr Ayat 22-24
   
“Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”
“Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, yang Maha Suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan Keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala Keagungan, Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”
“Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk Rupa, yang mempunyai asmaaul Husna. bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

v  PENJELASAN
Firman Allah SWT, “Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” Ibnu Abbas berkata, “Yang mengetahui yang tersembunyi dan yang Nampak.”
Menurut satu pendapat, yang mengetahui yang telah dan yang akan terjadi.
Menurut satu pendapat, yang dimaksud dengan al-ghaib adalah sesuatu yang tidak diketahui oleh hamba-hamba dan tidak mereka saksikan dengan jelas, sedangkan yang dimaksud dengan asy-Syahadah adalah apa yang mereka ketahui dan saksikan.[22]
Firman Allah SWT, “Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, yang Maha Suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan Keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala Keagungan, Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” Maksud ayat ini adalah, Dia-lah yang memiliki segala sesuatu dan mengendalikannya tanpa larangan dan tidak terelakkan, yang suci dari segala cela dan kekurangan, yang makhluk-Nya aman dari kezaliman, karena Dia-lah yang mengawasi mereka, sebagaimana Dia firmankan: “Dia Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al-Mujadilah, 58: 6). Dan “Maka apakah Tuhan yang menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuat-Nya (sama dengan yang tidak demikian sifatnya)?” (Ar-Ra’d, 13: 33).
Dia-lah yang kuasa atas segala sesuatu dan memaksanya. Dia mengalahkan segala sesuatu dengan keagungan dan keperkasaan-Nya, sehingga keperkasaan hanyalah pantas bagi-Nya dan kesombongan hanya pantas bagi keagungan-Nya. Maha Suci Tuhan kita dari istri dan anak yang dikatakan oleh orang-orang musyrik. Dia-lah Yang Satu, Yang Tunggal, Yang menjadi tujuan, Yang tidak beranak, Yang tidak dianakkan dan Yang tidak ada seorang pun menyamai-Nya.[23]
Firman Allah SWT, “Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk Rupa, yang mempunyai asmaaul Husna. bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Maksudnya, Dia-lah Allah Pencipta segala sesuatu dan memunculkannya kea lam wujud menurut sifat yang dikehendaki-Nya. Dia-lah yang mempunyai sifat-sifat yang baik yang disifatkan untuk diri-Nya, dan tidak ada seorang pun yang menyamai-Nya di dalam sifat-sifat-Nya itu. Dan Dia-lah yang sangat mendendam terhadap musuh-musuh-Nya dan sangat bijaksana dalam mengatur makhluk-Nya. Dan dia mengendalikan mereka kepada apa yang membawa kebaikan bagi mereka. Dia-lah yang sempurna qudrah dan ilmu-Nya.[24]

IV.             KESIMPULAN
Dari uraian di atas, dapat diambil kesimpulan sbb:
a.       Sesungguhnya Allah memiliki nama-nama yang baik, maka berdoalah dengan nama-nama tersebut. Dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam menyebut nama Allah, karena sesungguhnya mereka akan mendapatkan balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.
b.      Sembahlah hanya kepada Allah, bukan kepada nama-nama yang dibuat oleh nenek moyang kalian. Karena sesungguhnya nama-nama yang kalian buat tersebut tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudarat.
c.       Serulah Dia dengan “Allah” dan Ar-Rahman, atau dengan Asma al-Husna. Sesungguhnya Allah Maha Suci dari sifat manusia, seperti beristri, beranak, dll. Serta Maha Suci Dia dari sekutu pada kekuasaan-Nya.
d.      Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, yang Maha Suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan Keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala Keagungan, Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk Rupa, yang mempunyai asmaaul Husna. bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

V.                DAFTAR PUSTAKA
Al-Maragi, Ahmad Mustafa , Tafsir Al-Maragi, diterjemahkan oleh Bahrun Abubakar, Lc., Drs. Hery Noer Aly, dan K. Anshori Umar Sitanggal dari “Tafsir Al-Maragi”, Juz 9, Semarang: PT. Karya Toha Putra, Cet. II, 1994.

                      , Tafsir Al-Maragi, diterjemahkan oleh Bahrun Abubakar, Lc., Drs. Hery Noer Aly,                                dan K. Anshori Umar Sitanggal dari “Tafsir Al-Maragi”, Juz 12, Semarang: PT.                                          Karya Toha Putra, Cet. II, 1993.

                      , Tafsir Al-Maragi, diterjemahkan oleh Bahrun Abubakar, Lc., Drs. Hery Noer Aly,                                dan K. Anshori Umar Sitanggal dari “Tafsir Al-Maragi”, Juz 15, Semarang: PT.                                          Karya Toha Putra, Cet. II, 1993.

                      , Tafsir Al-Maragi, diterjemahkan oleh Bahrun Abubakar, Lc., Drs. Hery Noer Aly,                                dan K. Anshori Umar Sitanggal dari “Tafsir Al-Maragi”, Juz 28, Semarang: PT.                                          Karya Toha Putra, Cet. II, 1993.

Al Qurthubi, Syaikh Imam, Tafsir Al Qurthubi, diterjemahkan oleh Sudi Rosadi,Fathurrahman,                               dan Ahmad Hotib; editor M. Ikbal Kadir dari “Al Jami’ li Ahkaam Al Qur’an”, Jilid                           7, Jakarta: Pustaka Azzam, Cet. I,  2008

                      , Tafsir Al Qurthubi, diterjemahkan oleh Muhyiddin Masridha; editor M. Ikbal                                        Kadir dari “Al Jami’ li Ahkaam Al Qur’an”, Jilid 9, Jakarta: Pustaka Azzam, Cet. I,                                            2008.

                      , Tafsir Al Qurthubi, diterjemahkan oleh Asmuni; editor Mukhlis B Mukti dari “Al                         Jami’ li Ahkaam Al Qur’an”, Jilid 10, Jakarta: Pustaka Azzam, Cet. I, 2008.
                      , Tafsir Al Qurthubi, diterjemahkan oleh Dudi Rosyadi dkk; editor Mukhlis B                                            Mukti dari “Al Jami’ li Ahkaam Al Qur’an”, Jilid 18, Jakarta: Pustaka Azzam, Cet.                                           I, 2009.

Shihab, M. Quraish, Tafsir Al-Mishbah, vol 4, Jakarta: Lentera Hati, Cet. V, 2012.

                       , Tafsir Al-Mishbah, vol 6, Jakarta: Lentera Hati, Cet. V, 2012.

                      , Tafsir Al-Mishbah, vol 7, Jakarta: Lentera Hati, Cet. III, 2005.



[1] Ahmad Mustafa Al-Maragi, Tafsir Al-Maragi, diterjemahkan oleh Bahrun Abubakar, Lc., Drs. Hery Noer Aly, dan K. Anshori Umar Sitanggal dari “Tafsir Al-Maragi”, Juz 9, (Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1994), Cet. II, h. 216.
[2] Syaikh Imam Al Qurthubi, Tafsir Al Qurthubi, diterjemahkan oleh Sudi Rosadi, Fathurrahman, dan Ahmad Hotib; editor M. Ikbal Kadir dari “Al Jami’ li Ahkaam Al Qur’an”, Jilid 7, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2008), Cet. I, h. 818-819.
[3] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, vol 4, (Jakarta: Lentera Hati, 2012), Cet. V, h. 382.
[4] Ibid.
[5] Ibid. h. 382-383.
[6] Syaikh Imam Al Qurthubi. Op. cit. h. 821.
[7] Ibid. h. 823-824.
[8] M. Quraish Shihab. Op. cit. h. 384.
[9] Ahmad Mustafa Al-Maragi. Op. cit. h. 221-222.
[10] Syaikh Imam Al Qurthubi, Tafsir Al Qurthubi, diterjemahkan oleh Muhyiddin Masridha; editor M. Ikbal Kadir dari “Al Jami’ li Ahkaam Al Qur’an”, Jilid 9, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2008), Cet. I, h. 435-436.
[11] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, vol 6, (Jakarta: Lentera Hati, 2012), Cet. V, h. 93.
[12] Ahmad Mustafa Al-Maragi, Tafsir Al-Maragi, diterjemahkan oleh Bahrun Abubakar, Lc., Drs. Hery Noer Aly, dan K. Anshori Umar Sitanggal dari “Tafsir Al-Maragi”, Juz 12, (Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1993), Cet. II, h. 292.
[13] Syaikh Imam Al Qurthubi. Op. cit. h. 436-437.
[14] M. Quraish Shihab. Op. cit. h. 97-98.
[15] Syaikh Imam Al Qurthubi. Op. cit. h. 437.
[16] Syaikh Imam Al Qurthubi, Tafsir Al Qurthubi, diterjemahkan oleh Asmuni; editor Mukhlis B Mukti dari “Al Jami’ li Ahkaam Al Qur’an”, Jilid 10, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2008), Cet. I, h. 855.
[17] Ibid. h. 856.
[18] Ibid. h. 857.
[19] Ahmad Mustafa Al-Maragi, Tafsir Al-Maragi, diterjemahkan oleh Bahrun Abubakar, Lc., Drs. Hery Noer Aly, dan K. Anshori Umar Sitanggal dari “Tafsir Al-Maragi”, Juz 15, (Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1993), Cet. II, h. 216.
[20] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, vol 7, (Jakarta: Lentera Hati, 2005), Cet. III, h. 569.
[21] Ahmad Mustafa Al-Maragi. Op. cit. h. 217-218.
[22] Syaikh Imam Al Qurthubi, Tafsir Al Qurthubi, diterjemahkan oleh Dudi Rosyadi dkk; editor Mukhlis B Mukti dari “Al Jami’ li Ahkaam Al Qur’an”, Jilid 18, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2009), Cet. I, h. 321-322.
[23] Ahmad Mustafa Al-Maragi, Tafsir Al-Maragi, diterjemahkan oleh Bahrun Abubakar, Lc., Drs. Hery Noer Aly, dan K. Anshori Umar Sitanggal dari “Tafsir Al-Maragi”, Juz 28, (Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1993), Cet. II, h. 92-93.
[24] Ibid. h. 93-94.

No comments: